Rabu, 12 Mei 2010

Telur Asin


B. LATAR BELAKANG MASALAH
Peternakan merupakan subsektor dari pertanian yang memiliki peran penting dalam pembangunan di Indonesia, yaitu memberikan kontribusi dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani. Hasil ternak yang biasanya kita kenal diantaranya telur, daging, dan susu. Semuanya diharapkan selain dapat menjadi sumber protein hewani juga memiliki nilai jual yang berbeda di mata masyarakat secara umum. (Santoso, 2004)
Namun dari ke tiga sumber protein hewani itu, telur merupakan sumber protein terbaik relatif murah, yang mempunyai andil besar dalam mengatasi masalah gizi yang terjadi di masyarakat. Menurut guru besar Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Prof. DR. Ir. Made Astawan, MS, pada penelitian dengan menggunakan tikus percobaan, diketahui bahwa telur mempunyai nilai kegunaan protein (net protein utilization) 100 persen, bandingkan dengan daging ayam (80 persen) dan susu (75 persen). Hal ini menunjukkan bahwa jumlah dan komposisi asam aminonya sangat lengkap dan berimbang, sehingga hampir seluruh bagiannya dapat digunakan untuk pertumbuhan maupun penggantian sel-sel yang rusak. Oleh karena itu, zat-zat gizi yang ada pada telur sangat dibutuhkan untuk kehidupan yang sehat.
Oleh karena mudah diperoleh dan harganya yang murah, hampir semua orang pernah menyantap telur. Telur yang biasa dikonsumsi misalnya telur ayam, itik, angsa dan burung. Telur tersebut dimanfaatkan untuk berbagai panganan. Tabel 1 menunjukkan komposisi telur dari berbagai jenis unggas.





Tabel 1 Komposisi Gizi Telur Berbagai Jenis Unggas
Jenis Unggas Protein (%) Lemak (%) Karbohidrat (%) Abu (%)
Ayam ras 12,7 11,3 0,9 1,0
Ayam buras 13,4 10,3 0,9 1,0
Itik 13,3 14,5 0,7 1,1
Angsa 13,9 13,3 1,5 1,1
Merpati 13,8 12,0 0,8 0,9
Kalkun 13,1 11,8 1,7 0,8
Puyuh 13,1 11,1 1,0 1,1
Sumber : Woodard, et al, 1973 dan Sastry, et al, 1982 dalam www.wikipedia.org., 6 Septermber 2006
Mengingat gizi yang tinggi, telur sangat dianjurkan untuk dikonsumsi oleh anak-anak yang sedang dalam masa tumbuh-kembang, ibu hamil dan menyusui, orang yang sedang sakit atau dalam proses penyembuhan, serta para lansia (lanjut usia). Dengan demikian, telur cocok untuk semua kelompok umur dari segala lapisan masyarakat untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, melihat peluang dari sisi gizi dan konsumennya, telur dapat menjadi produk yang prospektif untuk dikembangkan. Tabel 2 menyajikan total produksi telur di Indonesia tahun 2003.
Tabel 2 Total Produksi Telur di Indonesia tahun 2003.
Jenis Unggas Total Produksi
(ribu ton)
Itik 179,0
Ayam buras 180,1
Ayam ras 701,2
Sumber : Statistik peternakan, 2003

Salah satu telur yang dikonsumsi oleh masyarakt Indonesia adalah telur itik (telur bebek). Namun, agak berbeda dengan telur ayam yang memang sudah biasa dikonsumsi oleh masyarakat, telur itik tidak begitu banyak pemanfaatannya karena bau amisnya yang tajam. Akan tetapi, walaupun baunya memang lebih amis namun kelebihan telur itik dibandingkan dengan telur lain adalah kemampuannya dalam menyerap air sangat mudah karena mempunyai pori-pori kulit yang lebih besar, sehingga sangat baik jika diolah menjadi telur asin.
Di masa yang akan datang kegemaran mayarakat Indonesia terhadap telur itik tidak akan terhenti. Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal Perindustrian Perdagangan Kabupaten Brebes (2003), populasi bebek (itik) mencapai 381.330 ekor, dengan produksi 58.103.750 butir telur per tahun. Tentu saja populasi bebek dan produksi telur di Kabupaten Brebes tidak akan ada artinya jika tidak ditunjang dengan usaha produksi telur asin. Selanjutnya, sampai saat ini terdapat 129 unit usaha pembuatan telur asin dengan kapasitas produksi 45,1 juta butir telur per tahun. Unit produksi itu tersebar di Kelurahan Brebes, Desa Limbangan Wetan (Kecamatan Kota Brebes), Desa Pesantunan, Desa Pakijangan (Kecamatan Wanasari), dan Desa Cimohong (Bulakamba).
Salah satu bisnis yang dapat dikembangkan dari usaha telur asin adalah membuat telur asin beraroma. Pemanfaatan telur itik dengan inovasi baru dalam hal aroma telah mulai dilakukan oleh salah seorang penyuluh di daerah Indramayu sejak tahun 2002. Produk telur asin beraroma memberikan terobosan baru guna menghadapi masalah ketidaksukaan orang terhadap bau amis yang dirtimbulkan dari telura asin tersebut. Dengan demikian, pemberian aroma diharapkan akan menarik perhatian konsumen yang semula enggan untuk mengkonsumsi menjadi tertarik mengkonsumsinya.
Upaya sosialisasi terhadap produk telur asin beraroma telah banyak dilakukan oleh Dinas Pertanian setempat. Diantaranya dengan berperan aktif mengadakan seminar atau mengikuti seminar-seminar yang terkait dengan terobosan-terobosan baru dalam hal peternakan, diantaranya pertemuan dengan sarjana peternakan se-Indonesia di Lembang, Pameran Pangan di Jakarta dengan sponsor utama Bank Dunia, dan pensosialisasian Dinas Peternakan Nasional ke Manila, Filipina terkait dengan inovasi baru yang dilakukan oleh penyuluh pertanian Kabupaten Indramayu.
Permintaan akan supply telur asin beraroma ini telah datang dari berbagai pihak diantaranya Dinas Pertanian Kabupaten Bandung untuk dipasok ke supermarket-supermarket, Universitas Padjajaran, dan Dinas Pertanian Kabupaten Brebes yang memang belum melakukan inovasi telur asin beraroma.. Namun, kendala yang dihadapi oleh pengusaha telur asin beraroma ini adalah kurangnya ketersediaan waktu untuk mengelola usahanya dengan lebih intensif dan pembinaan secara profesional kepada para pekerja.
Saat ini, produksi telur dilakukan secara musiman (berproduksi jika ada pesanan atau acara khusus) keuntungan yang diperoleh terbilang besar. Jika diasumsikan pengusaha tersebut hanya aktif berproduksi selama 10 bulan setahun, dengan jumlah 100 butir perhari, dengan keuntungan bersih per butir telur Rp 500,- maka omzet yang dapat diterima selama setahun tersebut dapat mencapai 15.000.000 rupiah.
Walaupun usaha tersebut terbilang masih dalam skala mikro, namun memberikan efek multiplier yang cukup besar dalam perekonomian daerah Indramayu. Secara langsung para peternak itik akan semakin terpacu untuk membudidayakan itiknya, sehingga tercipta kualitas telur yang lebih baik dan secara tidak langsung dengan adanya terobosan baru dari Kabupaten Indramayu membawa nama Indramayu dalam kancah perdagangan berskala Internasional, dan akan berdampak pada peningkatan pemasukan daerah.
Mengamati fakta yang terjadi di Kabupaten Brebes dan Kabupaten Indramayu dalam memenuhi minat masyarakat akan telur asin, khususnya telur asin beraroma, peluang pasarnya akan semakin terbuka lebar. Hal itu juga yang dirasakan ketika melakukan riset pasar dari 50 orang mahasiswa program sajana IPB dari berbagai jurusan. Mahasiswa merupakan konsumen potensial untuk dijadikan pasar, khususnya mahasiswa program sarjana. Secara umum, mereka menyukai telur asin, namun kendala yang seringkali dihadapi adalah karena faktor amis dan rasanya yng terlalu asin.
Oleh karena itu, saya mencoba menyajikan inovasi baru yang telah dilakukan oleh pengusaha telur asin beraroma di kabupaten Indramayu dengan menambahkan aroma jahe dan sup. Jahe dan merica sebagai bahan baku yang ditambahkan pada pengolahan telur asin beraroma ini telah dikenal baik oleh masyarakat Indonesia sebagai jenis rempah, warisan nenek moyang, yang memiliki manfaat luar biasa bagi tubuh kita. Hampir semua wilayah di tanah air umumnya memanfaatkan jahe dan merica sebagai salah satu bahan masakan penting. Berdasarkan pilihan aroma dan nilai gizi yang lebih dari telur asin beraroma diharapkan dapat semakin menyentuh berbagai kalangan usia, terutama dalam penyelesaian masalah kesehatan.
Dengan demikian, akan ditampilkan wajah baru telur asin beraroma sebagai alternatif cemilan yang ringan, praktis dan sehat bagi masyarakat kampus (mahasiswa program sarjana dan masyarakat sekitar kampus). Salah satu upaya untuk mengembangkan industri telur asin ini adalah dengan menetapkan pengembangan strategi usaha. Menurut Stoner, dkk (1996) ) strategi adalah program luas untuk menentukan dan mencapai tujuan organisasi pada lingkungannya sepanjang waktu.

C. PERUMUSAN MASALAH
Alternatif pengembangan usaha ini bertujuan untuk mengembangkan kompetensi bidang pertanian dalam arti luas, khususnya bidang peternakan dengan belajar berwirausaha dapat tercapai. Disamping itu, pasar terdekat yang akan dirambah adalah mahasiswa, maka pemasaran telur kepada mahasiswa merupakan upaya untuk membantu penyelesaian masalah kesehatan, khususnya bagi mahasiswa program sarjana IPB.
Banyaknya tugas kuliah, menyebabkan mahasiswa yang tinggal di asrama atau kos jauh dari pengawasan orang tua, sehingga dalam urusan makan seringkali tidak diperhatikan. Kesibukan yang ada mempengaruhi kebiasaan makan yang hanya mengenyangkan dan banyak namun murah, tanpa memperhatikan asupan gizi yang diperlukan oleh tubuh. Hal ini didukung pula oleh kebiasaan lain yang seringkali dilakukan oleh mahasiswa ketika lapar, yaitu mengemil.
.Berdasarkan data penelitian yang dilakukan oleh Setiawan (2006) terhadap mahasiswa TPB IPB menunjukkan bahwa sumbangan protein makanan kudapan yang dikonsumsi mahasiswa putra TPB adalah sebanyak 14,33 persen, sementara mahasiswa putrinya sebanyak 13,27 persen. Nilai gizi tersebut sangatlah tidak mencukupi untuk menggantikan energi yang sudah mereka keluarkan. Pola makan yang buruk seperti di atas, berakibat pada kondisi tubuh yang mudah terserang penyakit pada saat disibukkan dengan aktivitas/kegiatan perkuliahan. .
Sementara itu kepala poliklinik IPB, Dr. dr. Sri Budiarti, menyatakan bahwa jumlah pasien secara umum yang berobat ke poliklinik dari tahun ke tahun semakin meningkat ( Tabel 3).

Tabel 3 Data Pasien yang Berobat ke Poliklinik IPB tahun 2002-2005
Tahun Jumlah pasien
2002 13.000
2003 17.000
2004 18.500
2005 21.100
Sumber : Poliklinik IPB, 2006

Tabel 3 menunjukkan peningkatan yang signifikan tehadap kunjungan ke poliklinik IPB setiap tahunnya. Berdasarkan jumlah pasien yang datang tersebut, penyakit yang dapat di diagnosa oleh poliklinik dengan peringkat 10 besar dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Nama Penyakit dan Jumlah Pasien yang berobat ke Poliklinik IPB tahun 2006.
No Nama Penyakit Jumlah Penderita
1. Infeksi Saluran Pernafasan Atas 5 408
2. Hipertensi 1 780
3. Penyakit Gigi dan Mulut 1 717
4. Infeksi Kulit 1 082
5. Infeksi Usus 1 072
6. Gastritis 876
7. TBC dan Infeksi Saluran Pernafasan Bawah lainnya 820
8. Vertigo dan Chepalgia 734
9. Diabetes Melitus 282
10. Anemia 278
Sumber : Poliklinik IPB, 2006


Selanjutnya, hasil wawancara dengan Ibu Sri Budiarti, dapat diketahui bahwa pada umumnya keluhan yang dirasakan oleh mahasiswa adalah infeksi usus dan anemia. Hal tersebut disebabkan oleh pola kebiasaan makan yang tidak teratur, asal kenyang namun kurang bergizi atau kebiasaan memakan cemilan sembarangan yang membahayakan kesehatan, misalnya banyak mengandung MSG. Selain itu, kebiasaan lain yang sudah membudaya dikalangan anak kos atau asrama adalah kebiasaan menggantikan karbohidrat dari nasi dengan mie instan yan dikonsumsi dengan tambahan saus. Tanpa mereka sadari zat-zat yang terkandung dalam makanan tersebut berbahaya.
Berdasarkan hal di atas, sesuai dengan visi IPB, menjadi perguruan tinggi yang bertaraf internasional dalam pengembangan IPTEKS dan sumberdaya manusia dengan kompetensi utama pertanian tropika, saya berharap dapat sedikit memberikan kontribusi nyata atas ilmu yang saya pelajari dan sedikit kontribusi dalam upaya penyelesaian masalah kesehatan yang dihadapi oleh mahasiswa program sarjana khususnya, dan masyarakat sekitar pada umumnya, sesuai dengan kompetensi saya di bidang agribisnis, dengan memberikan alternatif cemilan sehat dari produk peternakan.
Selain itu memberikan alternatif pilihan masyarakat sekitar kampus dalam mengkonsumsi telur asin beraroma. Secara tidak langsung, dengan adanya usaha ini secara umum akan dapat membantu pemerintah mengatasi gizi buruk yang terjadi pada generasi muda dan membantu para produsen telur asin untuk lebih aktif mengembangkan produknya sehingga dapat merambah pasar yang lebih luas.

C. TUJUAN
1. Menjadikan telur asin beraroma sebagai produk olahan telur itik dengan harga yang terjangkau dan bergizi.
2. Mempopulerkan telur asin beraroma sebagai salah satu alternatif cemilan sehat dikalangan mahasiswa program sarjana dan masyarakat sekitar.


D. PEMASARAN
Strategi pemasaran yang diterapkan meliputi promosi dan penjualan. Promosi dilakukan untuk memperkenalkan wajah baru telur asin kepada mahasiswa program sarjana dan masyarakat sekitar.
Promosi dilakukan dengan cara memberikan gambaran umum tentang nilai gizi telur asin beraroma kepada mahasiswa atau dengan para dosen yang terlibat aktif dengan masalah kesehatan mahasiswa, seperti bapak Budi Setiawan dari feeding program GMK IPB dan kepala poliklinik IPB, Ibu Sri Budiarti. Harapannya mereka pun secara tidak langsung turut berpartisipasi dalam proses promosi telur asin beraroma sebagai sumber protein hewani yang praktis dan murah kepada para pasien (masyarakat umum) atau anak didiknya.
Langkah lain yang akan ditempuh dalam promosi adalah dengan ikut serta dalam kegiatan bazar yang seringkali diadakan di IPB, biasanya di koridor faperta. Dengan pengemasan yang menarik dan unik, diharapkan dapat menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang di sana, khususnya mahasiswa program sarjana. Kegiatan promosi tidak dihentikan selama proses produksi.
Penjualan akan dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan menitipkan telur asin beraroma pada kantin SAPTA, MAKJAN dan kantin Asrama Putri TPB IPB, penjualan secara langsung ke rumah-rumah dosen dan kelas, warung/rumah makan/mini market sekitar kampus yang potensial di kunjungi oleh masyarakat sekitar kampus dan kami pun melayani pemesanan. Setiap kali produksi, diasumsikan 100 butir telur yang dihasilkan. Rencana lokasi pemasaran dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rencana Lokasi Pemasaran Telur Beraroma di Sekitar Kampus IPB Setiap Satu Kali Produksi Tahun 2006.
Wilayah Pemasaran Jumlah Telur
(butir) Harga per butir
(Rp)
Kantin MAKJAN 20 2000
Kantin SAPTA 15 2000
Kantin Asrama Putri TPB 15 2000
Perumdos 20 2000
Mini market 20 2000
Rumah Makan Sekitar 10 2000

Secara umum, target pasar ada dua yaitu mahasiswa program sarjana dan masyarakat sekitar (dosen dan masyarakat umum menengah ke atas) dengan harga Rp 2000,- per butir.

E. PENGOLAHAN TELUR
Adapun tahap-tahap pengolahan telur asin beraroma adalah sebagai berikut :
1) Syarat telur itik yang baik untuk di buat telur asin.
 Telur itik tidak cacat/pecah
 Telur masih segar (1-4 hari)
 Bentuk telur oval
 Besar telur rata
 Warna kulit hijau muda
 Telur itik umbaran (bukan kletekan)

2) Bahan yang diperlukan untuk 100 butir telur itik
 Telur itik 100 butir
 Garam yodium 1 kg
 Serbuk batu bata 1 bungkus plastik ukuran 1 kg
 Abu sekam 1 plastik ukuran 1 kg
 Bawang putih 1 rumpun
 Bawang merah 10 ciung
 Jahe 0,7 ons (untuk yang aroma jahe) / merica 0,6 ons (untuk yang beraroma sup)
 Gula merah 1 gandu
 Rinso/sunlight 1 sendok makan
 Sabun cuci piring ½ bungkus
 Hamplas halus ½ lembar
 Minyak tanah 1 ½ liter
 Air secukupnya

3) Alat-alat yang diperlukan
 Baskom besar 2 buah
 Bakul plastik 1 buah
 Baskom kecil 1 buah
 Panci 1 buah
 Pisau 1 buah
 Kompor 1 buah
 Cowet & Uleg-uleg 1 buah
 Penjepit 1 buah





4) Cara pembuatan
 Telur itik direndam selama 5 menit, kemudian digosok dengan ampelas, setelah itu cuci dengan air sabun rinso/sunlight. Kemudian dicuci kembali baru ditiriskan di bakul plastik.
 Bawang merah, bawang putih, merica (jika beraroma sup) atau jahe (jika beraroma jahe) dan gula merah dihaluskan kemudian dimasukan ke dalam baskom dicampur dengan garam, serbuk batu bata, lalu diberi air secukupnya sampai jadi adonan (jangan encer)
 Telur itik yang sudah bersih masukan ke dalam adonan kemudian gulingkan ke abu sekam lalu diperam di baskom/bakul.
 Lama peraman telur asin yang enak/masir/merah-merahnya mengandung minyak harus 15 hari.
5) Cara perebusan yang baik
 Telur yang telah diperam selama 15 hari dicuci bersih dengan air rinso/sunlight, kemudian ditiriskan sebentar, lalu di masak dalam panci dengan kadar air dalam panci secukupnya/ukuran telunjuk ke telur yang paling atas.
 Telur dalam panci direbus dengan api kecil dan jangan ditutup, jika airnya telah mendidih maka api sedikit demi sedikit dibesarkan. Lama rebusan kurang lebih 1 jam agar telur asin tahan hinnga 10 hari (tidak bau). Telur yang sudah masak kemudian ditiriskan.


F. ANALISIS BIAYA
Asumsi :
1. Dalam satu kali produksi dihasilkan 100 butir telur
2. Dalam satu bulan dilakukan 6 kali produksi dengan rentang waktu tiga hari, jadi telur yang dihasilkan sebanyak 600 butir.





Tabel 6 Biaya Investasi
No Uraian Usia Ekonomis (Tahun) Harga Satuan (Rp) Jumlah Barang Total (Rp)
a. Biaya Peralatan
1. Baskom besar 2 10.000 2 20.000
2. Baskom kecil 2 5000 1 5000
3. Bakul plastik 2 10.000 1 10.000
4. Panci 1 30.000 1 30.000
5. Pisau 1 5000 1 5000
6. Kompor 2 50.000 1 50.000
7. Cowet & Uleg-uleg 1 20.000 1 20.000
8. Penjepit 2 10.000 1 10.000
Subtotal 1 150.000
b. Biaya Produksi
1. Sewa Tempat 200.000
2. Transportasi 95.000
c. Biaya lain-lain 100.000
Subtotal 2 395.000
Total Biaya Investasi 545.000



Pada Tabel 7 disajikan biaya variabel yang diperlukan dalam menjalankan usaha telur asin beraoma.










Tabel 7 Biaya Tidak Tetap (Variabel Cost) per 100 butir telur asin beraroma
No Nama Bahan Jumlah barang Harga Satuan (Rp) Harga (Rp)
1. Telur Bebek 100 butir 800 80.000
2. Garam yodium 4 kg 500 2000
3. Serbuk batu bata 1 bungkus plastik 3000 3000
4. Abu Sekam 1 bungkus plastik 500 500
5. Bawang Putih 1 siung - 500
6. Bawang Merah 10 biji - 500
7. Jahe 0,7 ons 5000 3500
8. Merica 0,6 ons 7500 4500
9. Rinso / Sabun cuci piring secukupnya - 500
10. Minyak Tanah 1 ½ liter 3000 4500
11. Hamplas halus ½ lembar 2000 1000
12. Air 1 liter 2500 2500
13. Tenaga Kerja 2 orang 10.000 20.000
14. Biaya Transportasi 15.000
Total Biaya Tidak Tetap/ 100 butir telur 138.000


3. Biaya Tetap (Fixed Cost)
3.1 Penyusutan Alat per bulan
1. penyusutan kompor (Rp. 50.000 : 2 : 12) = Rp 2100,-
2. penyusutan baskom besar (Rp. 20.000 : 2 : 12) = Rp 850,-
3. penyusutan baskom kecil ( Rp. 500 : 2 : 12) = Rp 200,-
4. penyusutan panci (Rp. 30.000 : 1 : 12) = Rp 2500,-
5. penyusutan pisau (Rp. 5000 : 1 : 12) = Rp 200,-
6. penyusutan bakul plastik ( Rp. 10.000 : 2 : 12) = Rp 450,-
7. penyusutan cowet dan uleg ( Rp. 20.000 : 1 : 12) = Rp 1600,-
8. penyusutan penjepit ( Rp. 10.000 : 2 : 12) = Rp 450,-
Jumlah = Rp 8350,-

5. Analisis Usaha
a. Biaya Produksi
= Biaya Tidak Tetap + Biaya Tetap
= ( Rp 138.000 x 6 kali produksi) + Rp 8350,-
= Rp 828.000,- + Rp 8350,-
= Rp 836.350- /bulan
= Rp 836.350,- x 6 bulan
= Rp 5.018.100,- / 6 bulan




b. Hasil Usaha
= Jumlah produksi x Harga jual
= 600 butir x Rp 2000,-
= Rp 1.200.000,-
= Rp 1.200.000,- /bulan
= Rp 1.200.000,- x 6 bulan
= Rp 7.200.000,- / 6 bulan
c. Keuntungan
= Hasil Usaha – Biaya Produksi
= Rp 1.200.000,- - Rp 836.350,-
= Rp 363.650,- /bulan
= Rp 363.650,- x 6 bulan
= Rp 2.181.900,- / 6 bulan
d. Jangka waktu pengembalian modal
= (Investasi + Biaya Produksi) : Keuntungan x Lama Produksi
= (Rp 545.000,- + Rp 836.350,-) : Rp 363.650,- x 1 bulan
= Rp 1.381.350,- : Rp 363.650,-
= 3,79 bulan
Artinya, modal akan kembali setelah 3,79 bulan.

e. R/C
= Hasil Usaha : Biaya Produksi
= Rp 1.200.000,- : Rp 836.350,-
= 1,43
Artinya, setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan untuk produksi menghasilkan penerimaan sebesar 1,43 rupiah.

f. Benefit Cost Ratio
= Keuntungan : Biaya Produksi
= Rp 363.650,- : Rp 836.350,-
= 0,43
Artinya, untuk setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan untuk produksi menghasilkan penerimaan sebesar 0,43 rupiah.

g. Break Event Point
= Biaya Tetap : 1- (Biaya Tidak Tetap : Hasil Usaha)
= Rp 8350,- : 1- (Rp 138.000,- : Rp 1.200.000,-)
= Rp 8350,- : (1- 0,115)
= Rp 8350,- : 0,885
= Rp 9.435,03,-
Artinya, usaha telur asin beraroma ini tidak untung dan tidak rugi (impas) pada saat dihasilkan pendapatan sebesar Rp 9.435,03,- dari penjualan satu kali produksi.
 Jadi Biaya Total Usaha adalah
= Biya Investasi + Biaya Produksi selama 6 bulan
= Rp 545.000,- + Rp 5.018.100,-
= Rp 5.563.100,-

G. KESIMPULAN
Mengingat gizi yang tinggi dan harga yang terjangkau, telur sangat dianjurkan untuk dikonsumsi oleh semua kelompok umur dari segala lapisan masyarakat guna menunjang aktivitas mereka sehari-hari, khususnya bagi mahasiswa, sehingga asupan gizi yang kurang akibat pola makan yang tidak teratur selama ini dapat diimbangi dengan cemilan yang sehat, dalam hal ini telur asin beraroma. Dengan demikian, inovasi baru dalam aroma diharapkan dapat lebih menarik minat konsumen untuk lebih menyenangi telur asin.
Secara tidak langsung, dengan adanya usaha ini secara umum akan dapat membantu pemerintah mengatasi masalah kesehatan masyarakat, khususnya gizi buruk yang terjadi pada generasi muda.

H. HARAPAN
Berdasarkan rencana pengembangan usaha dalam bidang peternakan yaitu telur asin beraroma, saya berharap cita-cita untuk merealisasikannya mendapatkan dukungan nyata dari berbagai pihak khususnya TRANS TV.
















DAFTAR PUSTAKA

Budiarti, Sri. 2005. Laporan Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan. Poliklinik Institut Pertanian Bogor.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Brebes. 2003. Peta Investasi Kabupaten Brebes.

Santoso, Abdul Munif. 2004. Strategi Pengembangan Industri Kecil Telur Asin. Skripsi. Jurusan Sosial Ekonomi Industri Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Setiawan, Adi Praja. 2006. Kebiasaan Konsumsi Makanan Kudapan dan Kontribusinya terhadap Kecukupan Energi dan Protein pada Mahasiswa TPB IPB dengan Status Gizi Kurang. Skripsi Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga. Fakultas Pertanian Bogor, Bogor.

Stoner, James A.F, R. Edward Freeman, dan Daniel R Gilbert. 1996. Manajemen. PT. Prenhallindo. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar